WORDS

Words can't save you, but you can save yourself following the words path

Home Blogger Access to Insight

Our Goals

to share thoughts and ideas about the Buddha's teaching with any benefits it may give.

Previous Posts

Archives

Friday, September 02, 2011

Marriage according to Buddhism

Umat Buddha terdiri dari dua bagian besar yaitu mereka yang berumah tangga dan tinggal dalam masyarakat serta mereka yang tidak berumah tangga dan tinggal di vihara. Para bhikkhu adalah termasuk umat Buddha yang tidak menikah. Dalam Dhamma, pernikahan bukanlah keharusan. Pernikahan adalah pilihan. Dengan demikian, seorang umat Buddha secara bebas boleh menentukan pilihan hidup mereka masing-masing. Mereka boleh menikah ataupun tidak menikah.

Untuk mereka yang memilih jalan hidup berumah tangga yaitu menikah, maka modal utama yang harus dimiliki adalah rasa cinta kepada pasangannya. Cinta yang dimaksudkan di sini adalah kemauan seseorang untuk membahagiakan pasangannya. Ia akan selalu bertindak, berbicara dan berpikir agar pasangannya berbahagia. Cinta bukanlah menuntut agar pasangannya membahagiakan dirinya. Cinta adalah memberi. Meskipun demikian, cinta bukanlah satu-satunya modal perkawinan. Perkawinan tanpa cinta tentu sulit dipertahankan dalam waktu lama, namun, perkawinan hanya bermodalkan cinta tentu akan berat dijalani sehingga mendapatkan kebahagiaan bersama.

Selain bermodalkan cinta, kehidupan berumahtangga juga membutuhkan modal kedua yaitu cita-cita. Cita-cita atau tujuan berumah tangga hendaknya disusun sejak awal suami istri membangun kehidupan berkeluarga. Tujuan berumah tangga hendaknya menjadi kesepakatan bersama antara suami istri. Dalam Kitab Suci Agama Buddha Tipitaka bagian Anggutara Nikaya II, 65 disebutkan, paling tidak terdapat empat tujuan hidup para perumahtangga.

Tujuan hidup pertama adalah mempunyai kecukupan materi. Artinya, pasangan hidup hendaknya mampu bekerja bersama, saling membantu mewujudkan tujuan berumah tangga yaitu kecukupan materi. Dengan materi yang dianggap cukup, suami istri mampu memenuhi kebutuhan dasar hidup manusia yaitu makanan, pakaian, tempat tinggal serta sarana kesehatan. Ketika pasangan itu memiliki anak, maka kebutuhan dasar dan pendidikan anak tentunya perlu dipenuhi dengan dukungan kecukupan materi tersebut. Namun, kecukupan materi tentu bukan diukur dari jumlah materi yang telah diperoleh. Kecukupan sebenarnya adalah kondisi pikiran ketika seseorang telah mampu menerima kenyataan atas materi yang telah ia dapatkan pada saat itu. Tanpa adanya kepuasan dalam pikiran, maka kecukupan tidak akan pernah dirasakan. Ia akan selalu merasa kekurangan dan merasa hidup penuh penderitaan walau materi yang ia miliki sudah sangat berlimpah.

Sebagai tujuan kedua dalam membangun rumah tangga adalah upaya suami istri untuk mempunyai posisi atau kedudukan dalam rumah tangga maupun masyarakat. Posisi dalam rumah tangga dapat tercapai ketika suami istri mampu mengembangkan sikap saling menghormati. Hubungan suami istri bukanlah hubungan antara atasan dan bawahan. Suami istri adalah pasangan yang saling melengkapi seperti tangan kanan dan tangan kiri. Suami istri hendaknya tidak saling menjelekkan satu sama lain, apalagi di depan umum. Apabila pasangan sudah tidak bisa saling menghargai, tentu orang lain juga tidak akan menghargai mereka lagi. Dengan demikian, berawal dari kondisi suami istri yang tidak bisa saling memberikan posisi dalam keluarga, masalah ini akan melebar menjadi hilangnya posisi pasangan itu di mata masyarakat.

Apabila suami istri sudah mampu saling menghargai maka posisi dalam masyarakat pun akan menguat. Apalagi mereka juga aktif mengembangkan kebajikan melalui ucapan, perbuatan dan pikiran. Dengan demikian, kehadiran mereka selalu dinantikan oleh masyarakat. Kehadiran mereka selalu menjadi sumber kebahagiaan masyarakat. Mereka dihargai dan dihormati masyarakat. Mereka adalah mutiara di tengah masyarakat. Posisi ini jelas akan menimbulkan kebahagiaan dan kedamaian kemanapun pasangan itu bermasyarakat.

Tujuan ketiga yang perlu dimiliki pasangan suami istri yang menginginkan hidup berbahagia adalah mendapatkan kesehatan serta usia yang relatif panjang. Pasangan suami istri akan hidup sehat apabila mereka rajin melaksanakan berbagai saran ahli kesehatan. Dengan mempunyai kesehatan yang baik serta berusia panjang, suami istri akan mampu hidup lebih lama untuk saling membahagiakan, saling menjaga, saling melindungi serta saling mencintai. Adapun kesehatan yang dimaksudkan di sini tentunya bukan hanya kesehatan fisik atau badan jasmani saja, melainkan termasuk pula kesehatan batin yaitu terpenuhinya kebutuhan akan kasih sayang, perhatian, rasa dihargai dsb.

Tujuan keempat sebuah rumah tangga adalah mencapai kebahagiaan dan keharmonisan suami istri dalam kehidupan ini maupun kehidupan yang selanjutnya. Diharapkan, dengan berbagai kebajikan ucapan, badan serta pikiran yang selalu dilaksanakan setiap waktu, pasangan suami istri juga akan mendapatkan kebahagiaan setelah kehidupan ini. Mereka dalam kehidupan ini bisa berbahagia dalam rumah tangga maupun hidup bermasyarakat. Mereka mampu membagikan kecukupan materi yang dimiliki demi kebahagiaan fihak lain. Mereka mampu menggunakan posisi dalam masyarakat untuk membahagiakan lingkungan yang lebih besar. Mereka juga mampu melakukan semua kebajikan itu dalam waktu yang lama karena usia mereka panjang. Maka dengan segala kebajikan yang telah dilakukan tersebut akan mengkondisikan mereka hidup berbahagia di dunia ini maupun di kehidupan yang akan datang. Mereka mungkin akan terlahir bahagia di salah satu alam surga. Lebih jauh lagi, mungkin saja pasangan suami istri yang saling mencintai dan membahagiakan ini akan bersama terlahir kembali sebagai suami istri di berbagai kehidupan berikutnya. Hal ini sangat wajar. Dikisahkan dalam riwayat hidup Sang Buddha, Pangeran Siddhattha dan Yasodhara selalu terlahir sebagai pasangan hidup sampai 547 kali kehidupan. Inilah tujuan keempat dalam suatu rumah tangga yang berbahagia.

Oleh karena itu, agar keempat tujuan berumah tangga tersebut dapat dicapai, jadikanlah kehidupan suami istri sebagai langkah awal untuk berkarya bersama sesuai dengan Ajaran Sang Buddha. Jadikanlah pasangan hidup sebagai teman untuk mengisi setiap waktu kehidupan dengan berbuat kebajikan melalui badan, ucapan dan juga pikiran. Kebersamaan dalam cinta untuk bersama selalu berbuat baik inilah yang akan memberikan kebahagiaan kepada suami istri dalam kehidupan ini maupun kehidupan-kehidupan yang selanjutnya.

Semoga penjelasan singkat ini memberikan manfaat untuk para pasangan hidup dalam menentukan sikap dan karya nyata mereka di masyarakat.

Semoga semuanya selalu berbahagia dalam Buddha Dhamma

Semoga semua mahluk hidup selalu berbahagia.

Sabbe satta bhavantu sukhitatta.

Source: Ceramah Bhikkhu Uttamo

http://www.samaggi-phala.or.id
Dennita @ 10:55 - comments (0)

Saturday, October 10, 2009

Biasa saja

Ada lagu bagus bangeeettt.... Ternyata setelah didengar berulang-ulang, jadi biasa aja.. Ada rahasia, misterius sekali.. Ternyata setelah diketahui kuncinya, jadi biasa aja... Ada permainan, seru sekali... Ternyata setelah bermain sekian lama, jadi biasa aja... Ada orang, bikin berdebar-debar... Ternyata setelah lebih lama mengenalnya, jadi biasa aja... Ada masalah yg bikin pusiing... Ternyata setelah diatasi, jadi biasa aja... Ada orang yg bikin marah n kesaaalll... Ternyata setelah lewat berapa waktu, jadi biasa aja... Ada orang yg keliatan begitu sempurna, Ternyata setelah diketahui kekurangannya, jadi biasa saja... *** Seandainya saya bisa melihat segala sesuatu, demikian adanya... mulai dari awal pertama saya melihatnya... Saya pasti tidak akan mudah terombang-ambing... Menghabiskan waktu, pikiran, dan energi...
Another-Backspace @ 22:10 - comments (1)

Ups

Saya mengatakan seseorang bodoh, Ups... apakah saya berada dalam bentuk kebodohan yang lain? Saya mengatakan seseorang berpandangan salah, Ups... apakah saya memiliki pandangan salah dalam bentuk yang lain? Saya mengatakan bahwa seseorang hanya melakukan pekerjaan yg sia-sia dan buang2 waktu, Ups... apakah saya membuang-buang waktu dalam bentuk yang lain? Saya mengatakan bahwa seseorang penuh dengan sandiwara, Ups... apakah saya juga bersandiwara dalam momen yang lain? Saya mengatakan bahwa seseorang hidup dalam mimpi, Ups... apakah saya berada dalam bentuk mimpi yang lain? *** Janganlah memperhatikan kesalahan dan hal-hal yang telah atau belum dikerjakan oleh orang lain, tetapi perhatikanlah apa yang telah dikerjakan dan apa yang belum dikerjakan oleh diri sendiri (Buddha)
Another-Backspace @ 22:08 - comments (1)

Tuesday, April 04, 2006

Berjalan searah realita

Your eyes see some light and a lamp appears in your mind
Your ears hear a name and someone appears in your mind
Your tongue tastes a flavour and some food appears in your mind
The light disappears, but the lamp is still in your mind
The sound disappears, but the person is still in your mind
The taste disappars, but the food is still in your mind
The lamp is not the light
The person is not the name
The food is not the taste
What are lamp, person, food then? Illusions.
So, let me introduce myself: an illusion.
But wait, maybe your's too...

By false perception, comes false expectation.
False expectation goes against the reality;
it just cannot be, the result is only suffering.
Wishing for something, but what happens is the opposite.
It is because of false expectation,
and false expectation is because of false perception.
(Tebak copy paste dari mana...:p)
Link: http://karaniya.blogspot.com/ Char @ 17:51 - comments (0)

Tuesday, February 28, 2006

Death

While I study and work here, in UI, there has been many death:

1. dhini 2001 (tenggelam)
2. student from class 2003 (tenggelam)
3. haryanto (dirampok di kereta)
4. student from class 2002 (ditikam di jalan)
5. student from class 2004 (last week) (terkena banjir)
6. swastika (psiko 2005) (26 Feb) (jatuh dari motor)

Kalau dilihat, mereka orang-orang yang sepertinya bernasib baik (at least selama hidup or if you compare them with me...), tapi tiba-tiba kematian datang.

Life is so unpredictable.

Char @ 22:46 - comments (0)

Monday, February 27, 2006

All

All is to be understood

Char @ 13:59 - comments (0)

Sunday, February 26, 2006

Three Controllers

Sila is to control body and speech.
Meditation is to control mind.
Wisdom is to control the sankhara.

When practicing sila, be aware of the body and speech.
When practicing meditation, be aware of the mind.
When practicing wisdom, be aware of the reality.

Char @ 11:40 - comments (0)